Gubernur Ali Mazi Apresiasi Pembuatan Massal Migor Tradisional yang Diinisiasi KNPI-Dikbud

  • Bagikan
Gubernur Ali Mazi bersama Ketua KNPI Sultra Alvin Akawijaya Putra di dampingi Kadisdikbud Sultra Asrun Lio mempraktikan pembuatan minyak goreng tradisional. (FOTO:FAYSAL/BKK)

KENDARI, BKK- Gubernur Ali Mazi mengapresiasi pelaksanaan pembuatan minyak goreng (migor) tradisional dari buah kelapa yang dilakukan secara massal seerntak pada 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Gerakan ini diinisiasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sultra di bawa komando Alvin Akawijaya Putra bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra.

“Menurut saya, ini kegiatan yang sangat luar biasa dan harusnya bisa mendapatkan rekor muri. Karena apa? kita menggerakkan anak-anak siswa-siswi SMA/SMK se-Sultra,” ujar Ali Mazi, Sabtu (2/4).

Menurut Ali Mazi, gerakan tersebut dapat menjawab kelangkaan migor di Sultra. Jika masyarakat, pemerintah, dan organisasi bisa bergerak bersama maka dipastikan tidak akan terjadi lagi kelangkaan di Indonesia.

“Kegiatan ini tidak akan berhenti sampai hari ini. Hari ini saya menyaksikan secara pasti, saya ada di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah anak-anak saya SMK/SMA se-Kota Kendari berkumpul di tempat ini untuk membuat minyak goreng tradisional secara massal. Nah ini kita akan jadi contoh untuk Indonesia,” katanya.

Ketua KNPI Sultra Alvin Akawijaya Putra mengatakan, gerakan massal pembuatan migor tersebut berjalan melalui koordinasi dengan Gubernur Sultra.

Menurut dia, program minyak kelapa merupakan turunan dari program economic recovery on provincial and regency level (pemulihan ekonomi di tingkat provinsi dan kabupaten), yang merupakan inspirasi dari event G20 Indonesia.

“Setelah kami menginisiasi gerakan serupa pada sejumlah kelompok masyarakat di Kota Kendari maka akan diperluas lagi dengan melibatkan ribuan pemuda untuk pembuatan minyak goreng tradisional secara serentak pada 17 kabupaten/kota,” ujar Alvin.

Dikatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya pemulihan ekonomi Sultra.

“Jadi, setelah kita diskusi dengan UMKM dan masyarakat, bahwa mereka tidak punya minyak goreng. Nah, ini (gerakan massal pembuatan migor) tidak mungkin dibilang solusi juga karena solusi yang paling mantap tentunya harga turun. Jadi ini sebagai alternatif, karena ini kearifan lokal kita yang dilakukan nenek moyang kita sejak dahulu,” terang Alvin.

Disebutkan, untuk di Kota Kendari pembuatan migor akan dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1, dengan menghadirkan sekitar 400 kelompok pemuda.

Alvin bilang, KNPI sengaja menggandeng Dikbud Sultra dalam pembuatan migor tersebut. Hal ini dilakukan agar pembuatan minyak goreng secara tradisional tidak hilang dan terus-menerus beregenerasi, sehingga kearifan lokal yang merupakan salah satu warisan budaya orang-orang terdahulu, tetap terjaga dan dikenal generasi selanjutnya.

“Dalam penggerakan ribuan pemuda ini, selain organisasi kepemudaan KNPI maka Disdikbud Sultra juga dinilai tepat untuk bersama-sama menjaga kearifan lokal ini. Tentu kami berharap agar gerakan ini bisa dilakukan setiap rumah tangga, minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Alvin.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Sultra Asrun Lio mengatakan, Kadisdikbud Sultra Asrun Lio mengatakan, pihaknya menyambut baik dan mendukung gerakan tersebut. Sebab, gerakan tersebut sangat positif untuk mengarahkan pola pikir para siswa se-Sultra, untuk bersama-sama menjadi duta minyak goreng lokal, minimal di lingkungan keluarganya masing-masing.

“Ide dari KNPI Sultra ini sangat brilian dan positif untuk bagaimana memasukan pembuatan minyak goreng lokal ini ke dalam kegiatan praktik siswa SMA/SMK SMK yang ada di Sultra. Selain bidang pendidikan, gerakan ini juga masuk dalam bidang kebudayaan, sehingga cukup relevan,” jelasnya.

Menurut Asrun Lio, setelah gerakan massal tersebut maka para siswa akan mendapatkan pengalaman nyata dalam pembuatan minyak goreng lokal. Selain itu, para siswa juga menjadi bagian dari aksi nyata dalam menjawab kelangkaan minyak goreng di Sultra.

“Bayangkan saja, hari ini ada 3 ribu tungku, berarti kalau 1 tungku menghasilkan tiga sampai empat liter maka akan menghasilkan 12 ribu liter lebih pada hari ini,” katanya.

Asrun Lio menambahkan, jika ribuan pelajar yang ikut dalam gerakan massal pembuatan minyak goreng tradisional diaktualisasikan di rumah maupun lingkungan tempat tinggal masing-masing maka sedikitnya bisa memberikan dampak positif,” pungkasnya. (adv)

  • Bagikan