Pemprov Bakal Sidak Pasar Jaga Pasokan Bapok

  • Bagikan
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sultra, Yuni Nurmalawati (tengah) didampingi Sekertaris Dinas Ketahanan Pangan Ari Sismanto (kanan).

KENDARI, BKK – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) secara aktif terus melakukan langkah pasti guna menekan angka inflasi di wilayah Bumi Anoa. Bahkan setiap minggunya pihaknya aktif mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) TPID secara nasional.


Mengingat, saat ini secara nasional, kenaikan harga tertinggi terjadi di wilayah Sultra tepatnya di Kabupaten Buton Utara (Butur), untuk komoditas andil terbesarnya yaitu cabai rawit, beras dan ikan kembung dengan nilai Indeks Perkembangan Harga (IPH) 12,31 persen.


“Untuk itu Pemprov bakal mengambil langkah dengan aktif melakukan Sidak pasar setiap minggunya untuk semua Bahan kebutuhan pokok (Bapok). Melihat kondisi ini, saya ya berpikir bahwa minggu ini TPID harus melakukan sidak kepasar melihat ketersediaan pasokan dan stabilitasi harga, sehingga perlu komunikasi dengan para penyedia bagaimana kelancarkan distribusi,” terang Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sultra, Yuni Nurmalawati.


Dikatakan, dalam sidak kali ini, tim TPID segera mengusulkan bagaimana rencana untuk merancang skema ketika akan turun kelapangan.


“Nantinya kita akan melaporkan ke pimpinan bagaimana sebenarnya kesadaran kita semua anggota TPID untuk bentul-betul fokus dalam menekan angka inflasi disetiap daerah di Sultra,” ujarnya.


Sementara itu, Sekertaris Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Sultra Ari Sismanto mengatakan, saat ini berdasarkan data yang ada, sudah dua bulan terakhir Sultra terus menerus mengalami deflasi.


“Ini tentu perlu terus dipertahankan. Hanya memang ini merupakan pekerjaan berat karna menghadapi ramadan dan idulfitri. Dalam kondisi ini sering terjadi kenaikan harga tingkat kebutuhan yang tentu akan memicu naiknya harga-harga barang. Bila kita tidak melakukan pemantauan secara rutin ini bisa saja tidak terkendali,” ucap Ari.


Ari menuturkan, melihat pengalaman tahun lalu menjelang bulan puasa dan idulfitri biasanya beberapa komonitas akan merangkak naik diantara nya bawang merah, cabe merah, cabe rawit dan telur. Kondisi ini bahkan hampir setiap tahunnya terulang.


“Dari laporan terakhir komonitas yang masuk inflasi di bulan terakhir ini dan mempengaruhi komonitas adalah kacang panjang, beras, cabe merah dan bawang putih. Sementara untuk komoditas lainya masih sangat stabil,” jelasnya.


Dia bilang, terkait rencana sidak pasar dan sidak distribusi paling penting dilakukan saat ini. Sehingga tak ada lagi distributor mengendapkan barang, sebab disaat menjelang puasa dan lebaran mana kalah permintaan meningkat pasti ada beberapa spekulan-spekulan yang memanfaatkan situasi dan kondisi ini.


“Olehnya itu kita harus betul-betul cek di distributor jangan lagi ada yang menampung barang untuk menundah penyaluran karna inilah yang membuat barang-barang cenderung naik,” ungkapnya.
Ari menambahkan, untuk mengantisipasi inflasi pihaknya juga telah menjadwalkan untuk melakukan gelar pangan murah.


“Dimana akan dilakukan pada Minggu ketiga Maret, minggu pertama dan ketiga April. Mengingat diminggu ketiga April sudah menjelang idulfitri. Kemudian nanti Mei kita juga akan lakukan gelar pangan murah. Sehingga kami harap di minggu ini kita sudah harus ada pemantauan secara terpadu utamanya distributor,” tutupnya. (r4)

  • Bagikan